#74 Pendekatan Dan Teknik Konseling Behavioristik


Latar Belakang Sejarah
Pendekatan behavioral mulai pada tahun 1950-an dan 1960-an awal sebagai pemisah diri dari perspektif psikoanalitik yang dominan. Tahun 1960-an pendekatan ini ditantang untuk menciptakan identitasnya sendiri. Tahun 1970-an terapi perilaku muncul sebagai kekuatan besar dalam psikoterapi dan pendidikan, juga mengalami gerak pertumbuhan yang signifikan.

Pada periode ini terjadi peningkatan penekanan pada prosedur pengendalian diri yang memungkinkan klien  untuk membuat perubahan-perubahan yang signifikan.

Selama kurun waktu 1980-an, adalah masa yang bercirikan suatu pencarian cakrawala baru di bidang konsep dan metode. Para terapis perilaku membuat metode (teknik) ini bisa diteliti secara empiris dan untuk bisa dipertimbangkan dampak praktek terapinya pada klien dan juga masyarakat yang lebih luas.

Aspek Utama dalam Teknik Behavioral
Pengkondisian Klasik, pada tahun 1950-an Wolpe, Lazarus dan Eysenck mulai menggunakan penemuan penelitian ekperimental pada binatang untuk membantu menangani penderita fobia pada latar klinis. Karakteristik yang mendasari karya para perintis ini adalah pemfokusan pada analisis ekperimental dan pengevaluasiannya pada prosedur terapeutik.

Operan Kondisioning, terdiri dari perbuatan yang beroperasi dalam lingkungan untuk menghasilkan konsekuensi. Apabila perubahan lingkungan yang dihasilkan oleh perilaku itu memberi penguatan (reward) kemungkinannya makin kuat lagi perilaku itu akan terulang, dan apabila perubahan lingkungan itu tidak menghasilkan penguatan, kemungkinannya makin kecil bahwa perilaku itu akan terulang lagi.


Sifat-Sifat Dasar dan Asumsi-Asumsi
  1. Terapi ini didasarkan pada prinsip belajar yang bersumber pada eksperimen secara sistematis diaplikasikan untuk menolong orang agar bisa mengubah perilaku mal-adatif.
  2. Berfokus pada problem klien yang sekarang terjadi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
  3. Prosedur behavioral disesuaikan agar bisa sesuai dengan kebutuhan unik dari setiap klien
  4. Menekankan perubahan perilaku yang terbuka sebagai kriteria utama yang dengan kriteria itu perlakuan seharusnya dievaluasi dengan mengikutkan proses-proses kognitif didalamnya.
  5. Bersifat mendidik , penekanan pada klien untuk memiliki keterampilan agar mampu menangani permasalahan diri sendiri dengan harapan klien mampu bertanggung jawab untuk mentransfer apa yang telah dipelajari


Proses Konseling
Fokus terapi adalah pada faktor yang mempengaruhi perilaku yang ada dan apa yang bisa dilakukan untuk mengubah perilaku itu

Sasaran menempati nilai penting dalam terapi behavioral. Sasaran umum adalah agar dapat menciptakan kondisi belajar yang baru.
Sasaran memegang tiga fungsi penting:
  1. Sasaran dengan definisi yang jelas merefleksikan kawasan spesifik dari kecemasan klien, oleh karena itu sasaran memberikan arah yang bermakna bagi konseling.
  2. Sasaran juga memberikan landasan dan penggunaan strategi dan intervensi konseling tertentu.
  3. Sasaran memberikan suatu kerangka bagi evaluasi hasil akhir dari konseling.

Previous
Next Post »